Ayo Belajar
Rabu, 03 November 2010
kalau sudah sedekah kenapa harus khawatir
kita sudah bekerja menyebabkan kita tidak khawatir dengan rejeki yang akan kita terima, tapi kenapa ketika kita sudah bersedekah hati kita masih khawatir kalau kalau tidak ada rejeki yang datang lebih buanyak. seharusnya ini menjadi barometer bagi kita untuk mengukur sejauh mana tingkat keimanan kita kepada Allah. kalau kita masih khawatir tentang turunnya rejeki padahal kita sudah bersedekah maka jelas iman kita kurangnkuat, kan seharusnya setelah kita bersedekah hati kita tenang kkarena sudah pasti rejeki kita akan bertambah dari jatah yang seharusnya kita dapatkan.
kesulitan hidup tidak akan mendatangkan kebahagiaan
“Tuhanku, Kini ku mengerti, aku menjadi jiwa yang damai, bukan karena aku berhasil memadamkan semua kontradiksi di dalam diriku, tetapi karena aku justru menggunakan kegelisahan hatiku untuk menjadikanku lebih sabar dan lebih mengerti maksud di balik kesulitan yang kau hamparkan sebagai jalan naikku. Tuhanku, Aku mohon Engkau mendamaikanku, atau menggelisahkanku dengan kesulitan yang memuliakanku. Amien”
demikian penggalan doa dari seorang motivator…. saya sangat tertarik dengan kalimat terakhir yaitu dengan memohon kepada Tuhan agar “didamaikan hatiku”, namun ada kalimat yang menyertainya yaitu “dengan kesulitan”. baik menurut hukum pikiran bahwa apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi, dalam kalimat “dengan kesulitan” penggalan kalimat ini bertolak belakang dengan keinginan orang tersebut dalam berdoa yaitu menginginkan kebahagiaan.
baik, kalau saya, maka sebelum berdoa sesuatu yang “sulit” harus kita ubah menjadi positif misalnya dengan “pelajaran hidup”, “tantangan hidup” atau kalimat kalaimat lainnya yang lebih positif. sehingga apa yang diucapkan dalam doa akan sejalan dengan pikiran dari apa yang sedang dihadapi.
demikian penggalan doa dari seorang motivator…. saya sangat tertarik dengan kalimat terakhir yaitu dengan memohon kepada Tuhan agar “didamaikan hatiku”, namun ada kalimat yang menyertainya yaitu “dengan kesulitan”. baik menurut hukum pikiran bahwa apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi, dalam kalimat “dengan kesulitan” penggalan kalimat ini bertolak belakang dengan keinginan orang tersebut dalam berdoa yaitu menginginkan kebahagiaan.
baik, kalau saya, maka sebelum berdoa sesuatu yang “sulit” harus kita ubah menjadi positif misalnya dengan “pelajaran hidup”, “tantangan hidup” atau kalimat kalaimat lainnya yang lebih positif. sehingga apa yang diucapkan dalam doa akan sejalan dengan pikiran dari apa yang sedang dihadapi.
merubah pikiran seperti apa yang kita inginkan
orang kadang tidak peka dengan apa yang diinginkannya, orang ingin kaya tapi yang dipikirkan miskin terus, orang ingin melunasi hutan yang dipikirkan nya hutang terus.. orang ingin sehat yang dipikirkan sakit terus…, orang ingin sholat nyakhusyu yang dipikirkan khusyu itu sulit, orang ingin anaknya sholeh tapi yang dibicarakan anaknya nakal teruuss….
sekarang apa yang kita pikirkan itulah yang terjadi, maka sebaiknya jangan berpikir apa yang tidak kita inginkan tapi berpikirlah apa yang kita inginkan sehingga kenyataan hidup ini akan selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. kita ingin kaya kita berpikir kaya maka yang kita dapatkan adalah rejeki yang berlimpah, kita ingin sehat yang kita pikirkan adalah kesehatan prima dalam diri kita sehingga kita akan mendapatkan kesehatan, kita ingin anak kita sholeh yang kita pikirkan adalah anak kita cerdas dan sholeh maka yang kita dapat kan adalah anak anak kita yang baik dan menurut kepada kita serta mau menjalankan ibadah dengan baik. ..
langkah pertama untuk merubah pikiran adalah menyadari sekecil kecilnya pikiran pikiran apa yang selalu bertentangan dengan keinginan kita, catatlah kemudian rubahlah semua yang tidak sesuai dengan keinginan tersebut menjadi sesuai dengan keinginan.
contoh nya sangat sederhana.. misalnya kita punya mobil tahun 93 … masih bagus.. tapi ketika kita dijalan bertemu dengan mobil tahun 2005 yang model dan karakter mobilnya kita sukai dan kita ingin maka langsung saja pikiran kita arahkan untuk memilikinya yaitu dengan berdoa kepada Allah, ya Allah saya ingin mobil itu rasakan bagaimana memilikinya seperti sang pemilik mobil tersebut memilikinya.. dan jangan berpikir tentang “ah ada ada saja”, “ah mana mungkin..” kata kata atau pikiran seperti ini melawan keinginan kita .
yang penting adalah selaraskan keinginan kita dengan pikiran kita, tidak mungkin kita berkeinginan negatif, dalam diri manusia ada “BASHIROH” yang tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, dia selalu menuntun kita untuk memilihyang terbaik maka jalankan pikiran kita sesuai dengan keinginan yang memiliki sifat bashiroh dan fitrah. mana ada orang yang berkeinginan rumah jelek, mana ada orang yang ingin sakit, mobil jelek, mana ada orang yang menginginkan anaknya nakal.. dan seterusnya. pasti kita ingin yang lebih baik karena itulah fitrah kita. dan Allah pun menghendaki demikian yaitu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan itulah ciri ciri orang yang beruntung.
Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak merubah dirinya, apa yang di rubah dalam dirinya yang dirubah dalam dirinya adalah pikirannya dulu jika pikiran sudah sesuai dengan keinginan maka Allah akan mewujudkannya.
saya pagi ini menginginkan hari hari ini nanti di liputi dengan keceriaan, bekerja dengan penuh semangat dan saya antusias dengan pekerjaan saya. saya pun berpikir demikian … ya Allah ceriakan hidup saya, bahagiakan hidup saya, ….. terimakasih ya Allah…..
sekarang apa yang kita pikirkan itulah yang terjadi, maka sebaiknya jangan berpikir apa yang tidak kita inginkan tapi berpikirlah apa yang kita inginkan sehingga kenyataan hidup ini akan selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. kita ingin kaya kita berpikir kaya maka yang kita dapatkan adalah rejeki yang berlimpah, kita ingin sehat yang kita pikirkan adalah kesehatan prima dalam diri kita sehingga kita akan mendapatkan kesehatan, kita ingin anak kita sholeh yang kita pikirkan adalah anak kita cerdas dan sholeh maka yang kita dapat kan adalah anak anak kita yang baik dan menurut kepada kita serta mau menjalankan ibadah dengan baik. ..
langkah pertama untuk merubah pikiran adalah menyadari sekecil kecilnya pikiran pikiran apa yang selalu bertentangan dengan keinginan kita, catatlah kemudian rubahlah semua yang tidak sesuai dengan keinginan tersebut menjadi sesuai dengan keinginan.
contoh nya sangat sederhana.. misalnya kita punya mobil tahun 93 … masih bagus.. tapi ketika kita dijalan bertemu dengan mobil tahun 2005 yang model dan karakter mobilnya kita sukai dan kita ingin maka langsung saja pikiran kita arahkan untuk memilikinya yaitu dengan berdoa kepada Allah, ya Allah saya ingin mobil itu rasakan bagaimana memilikinya seperti sang pemilik mobil tersebut memilikinya.. dan jangan berpikir tentang “ah ada ada saja”, “ah mana mungkin..” kata kata atau pikiran seperti ini melawan keinginan kita .
yang penting adalah selaraskan keinginan kita dengan pikiran kita, tidak mungkin kita berkeinginan negatif, dalam diri manusia ada “BASHIROH” yang tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, dia selalu menuntun kita untuk memilihyang terbaik maka jalankan pikiran kita sesuai dengan keinginan yang memiliki sifat bashiroh dan fitrah. mana ada orang yang berkeinginan rumah jelek, mana ada orang yang ingin sakit, mobil jelek, mana ada orang yang menginginkan anaknya nakal.. dan seterusnya. pasti kita ingin yang lebih baik karena itulah fitrah kita. dan Allah pun menghendaki demikian yaitu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan itulah ciri ciri orang yang beruntung.
Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak merubah dirinya, apa yang di rubah dalam dirinya yang dirubah dalam dirinya adalah pikirannya dulu jika pikiran sudah sesuai dengan keinginan maka Allah akan mewujudkannya.
saya pagi ini menginginkan hari hari ini nanti di liputi dengan keceriaan, bekerja dengan penuh semangat dan saya antusias dengan pekerjaan saya. saya pun berpikir demikian … ya Allah ceriakan hidup saya, bahagiakan hidup saya, ….. terimakasih ya Allah…..
ihlas karena apa?
setiap pekerjaan yang kita lakukan asal dilakukan dengan ihlas maka akan menghasilkan suatu kekuatan yang besar. seorang ibu yang ihlas menggendong anaknya karena anaknya maka dia akan kuat dalam menggendong bahkan mengalahkan kekuatan suaminya dalam menggendong anak, orang yang mengabdikan dirinya demi bangsa dan negara… yang bekerja ihlas karena bangsa dan negara maka apapun dilakukan untuk bangsa dan negara… seorang pekerja yang bekerja ihlas bekerja karena uang maka dia akan kuat bekerja siang dan malam…
sekarang yang menjadi pertanyaan adalah seseorang melakukan suatu pekerjaan didasarkan atas ihlas karena apa? karena keluarga, karena kekasih, karena uang, karena bangsa dan negara atau karena Allah. jika karena Allah maka suatu pekerjaan yang kita lakukan tidak akan berhenti kepada sesuatu selain Allah, tapi jika kita bekerja karena bukan Allah misalnya karena uang maka kekuatan bekerja akan berhenti kepada uang, jadi jika uang tidak didapatkan dalam bekerja maka akan muncul kecewa. demikian pula ihlas karena keluarga, ihlas karena bangsa dan negara .. atau ihlas kepada yang lain.
dalam agama yang dimaksud dengan ihlas adalah ihlas karena Allah. ihlas ini mengiringi niat dan niat mengiringi perbuatan kita.
sekarang yang menjadi pertanyaan adalah seseorang melakukan suatu pekerjaan didasarkan atas ihlas karena apa? karena keluarga, karena kekasih, karena uang, karena bangsa dan negara atau karena Allah. jika karena Allah maka suatu pekerjaan yang kita lakukan tidak akan berhenti kepada sesuatu selain Allah, tapi jika kita bekerja karena bukan Allah misalnya karena uang maka kekuatan bekerja akan berhenti kepada uang, jadi jika uang tidak didapatkan dalam bekerja maka akan muncul kecewa. demikian pula ihlas karena keluarga, ihlas karena bangsa dan negara .. atau ihlas kepada yang lain.
dalam agama yang dimaksud dengan ihlas adalah ihlas karena Allah. ihlas ini mengiringi niat dan niat mengiringi perbuatan kita.
hidup dalam alam keyakinan
alam keyakinan adalah alam kesadaran, kesadaran yang memiliki arah, kepastian. kesadaran yang jelas kesadaran yang memiliki arah akan menagarahkan hidup kita baik dari pikiran kita, emosi kita, perilaku bahkan alam sekitar kita. maka yang kita perlu kita rubah , jika kita ingin berubah dalam hidup adalah kesadaran keyakinan kita dulu… nantinya Allah yang akan merubah.
hidup dalam alam keyakinan selalu mengarah atau meningkatkan kualitas hidup kita, karena orang yang beruntung adalah orang yang selalu lebih baik dari hari kemarin. karena kita yakin kepada sesuatu yang positif sehingga apa yang terjadi pada diri kita adalah sesuatu yang positif.
jadi : berpikir positif, yakin kepada yang positif, dan kita akan mengalami yang positif…….. itulah surga duunia
hidup dalam alam keyakinan selalu mengarah atau meningkatkan kualitas hidup kita, karena orang yang beruntung adalah orang yang selalu lebih baik dari hari kemarin. karena kita yakin kepada sesuatu yang positif sehingga apa yang terjadi pada diri kita adalah sesuatu yang positif.
jadi : berpikir positif, yakin kepada yang positif, dan kita akan mengalami yang positif…….. itulah surga duunia
bahagia bikin kaya
bukan sebaliknya…. tapi bahagia lah yang dapat membuat kita kaya, berarti juga sedih bikin miskin. maka dari itu siapa yang tidak ingin kaya jangan meneruskan membaca tulisan saya, ……khusus bagi mereka yang ingin kaya mari kita bincangkan sedikit tentang penyebab kaya. ternyata mudah untuk bisa kaya kuncinya adalah bahagia … baik kalau kita ingin kaya berarti kita harus siap untuk bahagia kalau tidak siap bahagia jangan jadi orang kaya… sebab untuk kaya kalau tidak bahagia sama saka miskin.
orang yan g bahagia dapat kita rekayasa …. sehingga lama lama menjadi bahagia beneran dan kalau sudah bagini maka sebentar lagi kita akan menjadi orang kaya ….
orang kaya belum tentu bahagia tapi orang bahagia sudah pasti kaya.. . bahkan bisa kaya raya… usahanya lancar, bisnisnya banyak… dan uang selalu ada di dompet dan ada di bank…. sungguh harta menambah kita untuk lebih bahagia…
logika ini jangan dibalik artinya bukan lah kekayaan yang membuat kita bahagia (kalau dasarnya memang tidak bahagia), bahagialah yang membuat kita kaya dan karena dasarnya adalah bahagia maka sekaya raya apapun kita kekayaan kita akan membuat kita lebih bahagia.
jelas.. kaya lebih baik dari miskin…. lebih enak kaya dari pada miskin… jadi kaya adalah positif sehingga sesuatu yang poisitif harus kta niatkan harus kita inginkan. jangan membenci kaya karena benci terhadap kaya akan membuat kita dijauhi dari kemakmuran, kecukupan dan kebahagiaan…
untuk marilah kita mencari surga dunia yaitu dengan bahagia … sungguh dalam kebahagiaan ada kekayaan.
orang yan g bahagia dapat kita rekayasa …. sehingga lama lama menjadi bahagia beneran dan kalau sudah bagini maka sebentar lagi kita akan menjadi orang kaya ….
orang kaya belum tentu bahagia tapi orang bahagia sudah pasti kaya.. . bahkan bisa kaya raya… usahanya lancar, bisnisnya banyak… dan uang selalu ada di dompet dan ada di bank…. sungguh harta menambah kita untuk lebih bahagia…
logika ini jangan dibalik artinya bukan lah kekayaan yang membuat kita bahagia (kalau dasarnya memang tidak bahagia), bahagialah yang membuat kita kaya dan karena dasarnya adalah bahagia maka sekaya raya apapun kita kekayaan kita akan membuat kita lebih bahagia.
jelas.. kaya lebih baik dari miskin…. lebih enak kaya dari pada miskin… jadi kaya adalah positif sehingga sesuatu yang poisitif harus kta niatkan harus kita inginkan. jangan membenci kaya karena benci terhadap kaya akan membuat kita dijauhi dari kemakmuran, kecukupan dan kebahagiaan…
untuk marilah kita mencari surga dunia yaitu dengan bahagia … sungguh dalam kebahagiaan ada kekayaan.
Minggu, 18 Juli 2010
Tempat download warez dan cracked version. ( dalam artian barang haram internet, Surfing with your own risk. Ok
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Senin, 12 Juli 2010
CINTA MENURUT KAJIAN TASAWUF
Cinta adalah modal seorang sufi dalam menapaki kehidupan spiritual. Oleh kalangan sufi cinta diistilahkan dengan mahabbah. Dalam tasawuf mahabbah merupakan sebuah maqam (jenjang spiritual yang harus dilalui seorang salik). Setiap hamba memiliki tujuan untuk mendapatkan mahabbah. Oleh sebab itu Imam al-Ghazali menjadikan mahabbah sebagai puncak maqam.
Sebuah kisah dari Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengisahkan, suatu Ketika Nabi Musa sedang berjalan di padang rumput dan mendapati seorang gembala kambing yang sedang beristirahat sambil berkata: Wahai Tuhanku aku sungguh mencintaiMu. Aku akan melayaniMu sepuas hatiKu. Aku sayang Engkau. Aku ingin sekali membelai dan menyisir rambutMu. Aku ingin sekali menyemir sepatumu.Mendengar perkataan demikian Nabi Musa marah dan menasihati Si penggembala kambing. Wahai penggembala kambing apa yang telah kau katakan telah menodai derajat Tuhan. Kamu tidak pantas berkata begitu, karena Tuhan tidak membutuhkan apa yang kau katakan. Si gembala menyeringai ketakutan. Sambil memohon, penggembala itu berkata: Wahai Nabi Musa engkau yang lebih mengetahui hubungan antara hamba dan Allah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang jelas cintaku pada Tuhan melebihi cintaku pada apapun. Musa menjawab: Jika begitu adanya bertobatlah kamu!
Seketika sipenggembala lari menuju hutan dan tidak kelihatan mukanya selama beberapa hari. Beberapa saat kemudian Nabi Musa mendapat teguran dari Allah. Seolah-olah Allah menyalahkan semua tindakan Nabi Musa yang membentak penggembala kambing. Kemudian Nabi Musa mendengar suara tanpa kalimat yang mengatakan:
Wahai Musa engkau telah memisahkan antara Aku dan hambaKu. Pecinta dan Yang diCinta tidak dibatasi oleh kata-kata dan kalimat. Pecinta dan Sang diCinta tidak terikat ikatan hukum dan formalisasi. Datanglah padanya sampaikan salamku untukNya. Berbuatlah sesuka dia. Sesungguhnya Aku sangat mencintai dan ridla padanya.
Mendengar Allah berkata demikian Nabi Musa dengan kontan meminta ampun dan langsung mencari si penggembala kambing ke padang rumput tempat biasa sang penggembala mengembalakan kambingnya. Tetapi Nabi Musa tidak menemukan si Penggembala.
Lama dia mencari hingga berhari-hari hingga ia menemukan si penggembala di dalam hutan dalam keadaan bersedih. Dia merintih sedih tidak bisa meluapkan rasa kasihnya kepada Tuhan. Lalu Nabi Musa mendekatinya. Wahai penggembala kambing sesungguhnya Allah telah berfirman kepadaku. Berbuatlah sesukamu karena Allah mencintai dan ridla kepadamu.
Hikmah
Dari cerita ini menjelaskan kepada kita bahwa cinta adalah kedudukan seorang hamba yang mengenal Tuhannya. Ia tidak terikat aturan atau sekat lainnya. Karena cinta merupakan essensi kedekatan seorang wali.
Kitapun bisa melihat sosok sufi wanita yang memiliki cinta mendalam kepada Allah swt. Dia adalah Rabi'ah al-Adawiyyah. Cintanya kepada Alah mengalahkan cintanya kepada apapun. Cintanya kepada Allah adalah cinta buta. Dia tidak merasa kesepian walaupun hidup sebatang kara. Dia tidak merasa sengsara walaupun hidupnya penuh dengan penderitaan. Dia selalu riang gembira karena hati dan jiwanya selalu terkiblat pada Allah swt. Keriang-gembiraannya ini dibarengi juga dengan kesedihan ratapi, karena selalu merasa menjadi hamba yang kurang dan penuh dengan dosa. Dengan demikian rasa cintanya berbarengan dengan rasa takut kepada Allah swt. Rabi'ah membagi cinta kepada Allah swt itu dua tingkatan:
1. Cinta_rindu
2. Cinta karena Allah lah yang pantas dicintai
Imam al-Ghazali menafsirkan cinta rindu
Beliau berpendapat, bahwa cinta yang dialami Rabi'ah pada tingkat ini adalah tingkatan awal (masih dalam taraf awam). Yang dimaksud dengan cinta rindu adalah cinta kepada Alah yang disebabkan karena kesadaran berterimaksih sebab Allah swt telah memmberikan karunia yang sangat besar kepadanya. Untuk itu dia wajib berterimaksih kepada Allah swt. Dengan berterimakasih kepada Allah, maka akan menimbulkan rasa simpatik dan cinta kepada Allah swt. Kesimpulannya cinta rindu diakibatkan rasa terimakasih.
Sedangkan cinta karena Allah yang patut untuk dicintai adalah pengalaman cinta Rabi'ah yang memuncak. Pengalaman seperti ini sudah menapaki jenjang paling tinggi yang tidak dialami oleh orang awam. Pada taraf ini Ke jamal-an (keindahan Tuhan) dan ke-Kamal-an (kesempurnaan) Tuhan tersibak dan dapat disaksikan oleh seorang sufi. Dan ketika sufi mengalami hal seperti ini ia akan merasa bahwa semua selain Allah adalah nisbi, buruk, jelek dan tidak berguna. Yang baik, agung, cantik, indah, sempurna dan selalu memberikan manfaat hanya Alah semata saja. Orang yang mendapatkan mahabbah ini tidakakan memperhatikan keuntungan, kerugian, kesedihan, kegembiraan dan lain sebagainya. Hidupnya hanya ditujukan dan diorientasikan kepada Allah semata.
Rabi'ah al-Adawiyyah pernah berkata: Ya Allah jika aku beribadah kepada-Mu karena takut siksa neraka, maka bakarlah aku didalam api neraka! Jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap sorga, maka jauhkanlah aku dari sorga-Mu! Tetapi jika aku beribadah kepada-Mu karena Engkaulah yang layak untuk disembah, maka jangan sembunyikan keindahan Wajah-Mu!
Dari kata-kata Rabi'ah ini dapat disimpulkan bahwa hidup dan matinya Rabi'ah hanya untuk sosok yang Dicintai. Sosok itu adalah Allah swt. Ibadahnya tidak mengharapkan apapun. Dia hanya ingin memandang, berdekatan dan berusaha selalu membuat ridla, suka dan senang sosok yang dicintainya.
Cinta semacam Rabi'ah kepada Allah swt mengalahkan cinta kepada selain Allah. Hingga suatu ketika ada seorang laki-laki datang melamarnya (menurut riwayat beliau adalah Sofyan ats-Tsauri). Namun Rabi'ah menolak lamaran tersebut.beliau berkata: Jika engkau hendak menikahiku, maka mintalah izin kepada Allah karena akumilik Allah.
Kecintaan Rabi'ah terhadap Allah melupakan segala macam kesengangan duniawi, bahkan untuk menikahpun beliau menolak untuk melakukannya. Hal seperti ini yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai cinta mati. Suatu ketika beliau ditanya oleh seseorang: "Ya Rabi'ah apakah engkau mencintai nabi Muhammad?" beliau menjawab: Aku mencintai Nabi Muhammad tetapi cintaku kepada Allah melupakan cintaku kepada makhluk.Cinta yang diungkapkan Rabi'ah menyiratkan bahwa cinta kepada Allah diatas segala cinta, termasuk cinta kepada Nabi. Hal ini berbeda dengan konsep cinta Zun Nun al- Mishri, justru beliau menyatakan cinta kepada nabi Muhammad harus dimiliki oleh setiap sufi. Dan cinta kepada Nabi Muhammad sejajar dengan cinta kepada Allah. Karena cinta kepada Nabi akan menimbulkan ketauladananan dari Nabi.
Tidak jauh berbeda dengan Rabi'ah, Zun Nun al-Mishri pun memiliki konsep cinta (Mahabbah). Menurutnya Cinta itu terbagi menjadi tiga tahapan. Tahapan pertama seseorang harus mencintai para ulama. Karena para ulama adalah warosatul al-ambiya (penerus para nabi). Jika seseorang mencintai para ulama ia akan meneladani para ulama. Setelah itu ia meneladani para ulama maka akan menimbulkan kecintaan kepada Rasulullah saw. Jika seseorang sudah mencintai Rasulullah, maka ia akan meneladani perilakuRasulullah saw. Dan jika sudah meneladani perilaku Rasulullah maka cinta kepada Allah akan timbul seperti cintanyaRabi'ah.
Zun-Nun al-Mishri, diriwayatkan meninggal dunia karena cinta. Diceritakan pada sebuah jamuan pertemuan para pembaca sima Zun Nun membaca puisi cinta sambil fana'(hilang kesadarannya karena ditarik dengan kesadaran ilahi). Ia membaca puisi cinta hinggga keluar ruangan dan pergi ke hutan bambu yang telah ditebas pohon-pohonnya. Kakinya tertusuk patahan-patahan bambu sampai infeksi. Tetapi beliau tidak merasakan sakit. Yang dirasa hanya rasa riang dan gembira karena cintanya kepada Allah. Sementara infeksi kakinya menyebar sampai ia menemui ajalnya. Dengan demikian cinta yang dialami Zun Nun dapat mengenyahkan rasa sakit jasmani.
Dari teori cinta (mahabbah) agaknya kita sebagai seorang muslim harus memiliki sebuah ambisi untuk mendapatkan maqam ini. Karena orientasi seorang hamba adalah mengenal, mencinta, berdekatan, bermesraan dan bersatu dengan Sang Maha Cinta, Allah swt.
Allah SWT berfirman:
يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا مَن يَرتَدَّ مِنكُم عَن دينِهِ فَسَوفَ يَأتِى اللَّهُ بِقَومٍ يُحِبُّهُم وَيُحِبّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى المُؤمِنينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الكٰفِرينَ يُجٰهِدونَ فى سَبيلِ اللَّهِ وَلا يَخافونَ لَومَةَ لائِمٍ ۚ ذٰلِكَ فَضلُ اللَّهِ يُؤتيهِ مَن يَشاءُ ۚ وَاللَّهُ وٰسِعٌ عَليمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mumin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS al-Maidah: 54)
Ayat diatas menerangkan bahwa Allah swt menurunkan kaum yang memiliki cinta. Cinta adalah sebuah rasa atau keadaan jiwa yang dapat menadamaikan kehidupan. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada dan berdasarkan Allah swt. Konsep cinta di dalam Islam hanya terdapat pada doktrin sufisme/tasawuf. Doktrin ini dinamakan dengan mahabbah.
Selanjutnya dalam al-Qur'an selalu ditekankan kepada orang-orang yang beriman untuk mensucikan jiwa agar hubungannya dengan Tuhan berjalan lancar. Proses penyucian ini dalam tasawuf dinamakan dengan tazkiyatun nafs. Al-Qur'an membicarakan hal ini dalam ayat berikut:
Nabi juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi mengenai kewalian, yaitu:
Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan permusuhan-Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada yang lebih Ku-sukai dari pada pengamalan segala yang kufardlukan atasnya. Kemudian, hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunah, maka Aku senantiasa mencintainya.
Bila Aku telah jatuh cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar. Aku penglihatannya yang dengannya ia melihat. Aku tangannya yang dengannya ia memukul. Aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya. (Wallahu a'alm)
Sebuah kisah dari Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengisahkan, suatu Ketika Nabi Musa sedang berjalan di padang rumput dan mendapati seorang gembala kambing yang sedang beristirahat sambil berkata: Wahai Tuhanku aku sungguh mencintaiMu. Aku akan melayaniMu sepuas hatiKu. Aku sayang Engkau. Aku ingin sekali membelai dan menyisir rambutMu. Aku ingin sekali menyemir sepatumu.Mendengar perkataan demikian Nabi Musa marah dan menasihati Si penggembala kambing. Wahai penggembala kambing apa yang telah kau katakan telah menodai derajat Tuhan. Kamu tidak pantas berkata begitu, karena Tuhan tidak membutuhkan apa yang kau katakan. Si gembala menyeringai ketakutan. Sambil memohon, penggembala itu berkata: Wahai Nabi Musa engkau yang lebih mengetahui hubungan antara hamba dan Allah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang jelas cintaku pada Tuhan melebihi cintaku pada apapun. Musa menjawab: Jika begitu adanya bertobatlah kamu!
Seketika sipenggembala lari menuju hutan dan tidak kelihatan mukanya selama beberapa hari. Beberapa saat kemudian Nabi Musa mendapat teguran dari Allah. Seolah-olah Allah menyalahkan semua tindakan Nabi Musa yang membentak penggembala kambing. Kemudian Nabi Musa mendengar suara tanpa kalimat yang mengatakan:
Wahai Musa engkau telah memisahkan antara Aku dan hambaKu. Pecinta dan Yang diCinta tidak dibatasi oleh kata-kata dan kalimat. Pecinta dan Sang diCinta tidak terikat ikatan hukum dan formalisasi. Datanglah padanya sampaikan salamku untukNya. Berbuatlah sesuka dia. Sesungguhnya Aku sangat mencintai dan ridla padanya.
Mendengar Allah berkata demikian Nabi Musa dengan kontan meminta ampun dan langsung mencari si penggembala kambing ke padang rumput tempat biasa sang penggembala mengembalakan kambingnya. Tetapi Nabi Musa tidak menemukan si Penggembala.
Lama dia mencari hingga berhari-hari hingga ia menemukan si penggembala di dalam hutan dalam keadaan bersedih. Dia merintih sedih tidak bisa meluapkan rasa kasihnya kepada Tuhan. Lalu Nabi Musa mendekatinya. Wahai penggembala kambing sesungguhnya Allah telah berfirman kepadaku. Berbuatlah sesukamu karena Allah mencintai dan ridla kepadamu.
Hikmah
Dari cerita ini menjelaskan kepada kita bahwa cinta adalah kedudukan seorang hamba yang mengenal Tuhannya. Ia tidak terikat aturan atau sekat lainnya. Karena cinta merupakan essensi kedekatan seorang wali.
Kitapun bisa melihat sosok sufi wanita yang memiliki cinta mendalam kepada Allah swt. Dia adalah Rabi'ah al-Adawiyyah. Cintanya kepada Alah mengalahkan cintanya kepada apapun. Cintanya kepada Allah adalah cinta buta. Dia tidak merasa kesepian walaupun hidup sebatang kara. Dia tidak merasa sengsara walaupun hidupnya penuh dengan penderitaan. Dia selalu riang gembira karena hati dan jiwanya selalu terkiblat pada Allah swt. Keriang-gembiraannya ini dibarengi juga dengan kesedihan ratapi, karena selalu merasa menjadi hamba yang kurang dan penuh dengan dosa. Dengan demikian rasa cintanya berbarengan dengan rasa takut kepada Allah swt. Rabi'ah membagi cinta kepada Allah swt itu dua tingkatan:
1. Cinta_rindu
2. Cinta karena Allah lah yang pantas dicintai
Imam al-Ghazali menafsirkan cinta rindu
Beliau berpendapat, bahwa cinta yang dialami Rabi'ah pada tingkat ini adalah tingkatan awal (masih dalam taraf awam). Yang dimaksud dengan cinta rindu adalah cinta kepada Alah yang disebabkan karena kesadaran berterimaksih sebab Allah swt telah memmberikan karunia yang sangat besar kepadanya. Untuk itu dia wajib berterimaksih kepada Allah swt. Dengan berterimakasih kepada Allah, maka akan menimbulkan rasa simpatik dan cinta kepada Allah swt. Kesimpulannya cinta rindu diakibatkan rasa terimakasih.
Sedangkan cinta karena Allah yang patut untuk dicintai adalah pengalaman cinta Rabi'ah yang memuncak. Pengalaman seperti ini sudah menapaki jenjang paling tinggi yang tidak dialami oleh orang awam. Pada taraf ini Ke jamal-an (keindahan Tuhan) dan ke-Kamal-an (kesempurnaan) Tuhan tersibak dan dapat disaksikan oleh seorang sufi. Dan ketika sufi mengalami hal seperti ini ia akan merasa bahwa semua selain Allah adalah nisbi, buruk, jelek dan tidak berguna. Yang baik, agung, cantik, indah, sempurna dan selalu memberikan manfaat hanya Alah semata saja. Orang yang mendapatkan mahabbah ini tidakakan memperhatikan keuntungan, kerugian, kesedihan, kegembiraan dan lain sebagainya. Hidupnya hanya ditujukan dan diorientasikan kepada Allah semata.
Rabi'ah al-Adawiyyah pernah berkata: Ya Allah jika aku beribadah kepada-Mu karena takut siksa neraka, maka bakarlah aku didalam api neraka! Jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap sorga, maka jauhkanlah aku dari sorga-Mu! Tetapi jika aku beribadah kepada-Mu karena Engkaulah yang layak untuk disembah, maka jangan sembunyikan keindahan Wajah-Mu!
Dari kata-kata Rabi'ah ini dapat disimpulkan bahwa hidup dan matinya Rabi'ah hanya untuk sosok yang Dicintai. Sosok itu adalah Allah swt. Ibadahnya tidak mengharapkan apapun. Dia hanya ingin memandang, berdekatan dan berusaha selalu membuat ridla, suka dan senang sosok yang dicintainya.
Cinta semacam Rabi'ah kepada Allah swt mengalahkan cinta kepada selain Allah. Hingga suatu ketika ada seorang laki-laki datang melamarnya (menurut riwayat beliau adalah Sofyan ats-Tsauri). Namun Rabi'ah menolak lamaran tersebut.beliau berkata: Jika engkau hendak menikahiku, maka mintalah izin kepada Allah karena akumilik Allah.
Kecintaan Rabi'ah terhadap Allah melupakan segala macam kesengangan duniawi, bahkan untuk menikahpun beliau menolak untuk melakukannya. Hal seperti ini yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai cinta mati. Suatu ketika beliau ditanya oleh seseorang: "Ya Rabi'ah apakah engkau mencintai nabi Muhammad?" beliau menjawab: Aku mencintai Nabi Muhammad tetapi cintaku kepada Allah melupakan cintaku kepada makhluk.Cinta yang diungkapkan Rabi'ah menyiratkan bahwa cinta kepada Allah diatas segala cinta, termasuk cinta kepada Nabi. Hal ini berbeda dengan konsep cinta Zun Nun al- Mishri, justru beliau menyatakan cinta kepada nabi Muhammad harus dimiliki oleh setiap sufi. Dan cinta kepada Nabi Muhammad sejajar dengan cinta kepada Allah. Karena cinta kepada Nabi akan menimbulkan ketauladananan dari Nabi.
Tidak jauh berbeda dengan Rabi'ah, Zun Nun al-Mishri pun memiliki konsep cinta (Mahabbah). Menurutnya Cinta itu terbagi menjadi tiga tahapan. Tahapan pertama seseorang harus mencintai para ulama. Karena para ulama adalah warosatul al-ambiya (penerus para nabi). Jika seseorang mencintai para ulama ia akan meneladani para ulama. Setelah itu ia meneladani para ulama maka akan menimbulkan kecintaan kepada Rasulullah saw. Jika seseorang sudah mencintai Rasulullah, maka ia akan meneladani perilakuRasulullah saw. Dan jika sudah meneladani perilaku Rasulullah maka cinta kepada Allah akan timbul seperti cintanyaRabi'ah.
Zun-Nun al-Mishri, diriwayatkan meninggal dunia karena cinta. Diceritakan pada sebuah jamuan pertemuan para pembaca sima Zun Nun membaca puisi cinta sambil fana'(hilang kesadarannya karena ditarik dengan kesadaran ilahi). Ia membaca puisi cinta hinggga keluar ruangan dan pergi ke hutan bambu yang telah ditebas pohon-pohonnya. Kakinya tertusuk patahan-patahan bambu sampai infeksi. Tetapi beliau tidak merasakan sakit. Yang dirasa hanya rasa riang dan gembira karena cintanya kepada Allah. Sementara infeksi kakinya menyebar sampai ia menemui ajalnya. Dengan demikian cinta yang dialami Zun Nun dapat mengenyahkan rasa sakit jasmani.
Dari teori cinta (mahabbah) agaknya kita sebagai seorang muslim harus memiliki sebuah ambisi untuk mendapatkan maqam ini. Karena orientasi seorang hamba adalah mengenal, mencinta, berdekatan, bermesraan dan bersatu dengan Sang Maha Cinta, Allah swt.
Allah SWT berfirman:
يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا مَن يَرتَدَّ مِنكُم عَن دينِهِ فَسَوفَ يَأتِى اللَّهُ بِقَومٍ يُحِبُّهُم وَيُحِبّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى المُؤمِنينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الكٰفِرينَ يُجٰهِدونَ فى سَبيلِ اللَّهِ وَلا يَخافونَ لَومَةَ لائِمٍ ۚ ذٰلِكَ فَضلُ اللَّهِ يُؤتيهِ مَن يَشاءُ ۚ وَاللَّهُ وٰسِعٌ عَليمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mumin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS al-Maidah: 54)
Ayat diatas menerangkan bahwa Allah swt menurunkan kaum yang memiliki cinta. Cinta adalah sebuah rasa atau keadaan jiwa yang dapat menadamaikan kehidupan. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada dan berdasarkan Allah swt. Konsep cinta di dalam Islam hanya terdapat pada doktrin sufisme/tasawuf. Doktrin ini dinamakan dengan mahabbah.
Selanjutnya dalam al-Qur'an selalu ditekankan kepada orang-orang yang beriman untuk mensucikan jiwa agar hubungannya dengan Tuhan berjalan lancar. Proses penyucian ini dalam tasawuf dinamakan dengan tazkiyatun nafs. Al-Qur'an membicarakan hal ini dalam ayat berikut:
Nabi juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi mengenai kewalian, yaitu:
Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan permusuhan-Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada yang lebih Ku-sukai dari pada pengamalan segala yang kufardlukan atasnya. Kemudian, hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunah, maka Aku senantiasa mencintainya.
Bila Aku telah jatuh cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar. Aku penglihatannya yang dengannya ia melihat. Aku tangannya yang dengannya ia memukul. Aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya. (Wallahu a'alm)
Senin, 23 November 2009
Minggu, 22 November 2009
Langganan:
Komentar (Atom)

